Press "Enter" to skip to content

Melati Wijsen, YOUTHOPIA, dan Anak Muda Pelestari Lingkungan

Walau dilakukan secara virtual, kehadiran Melati Wijsen ‘menyihir’ para partisipan di acara Temasek Shophouse Conversations yang digelar kemarin, 9 April 2021. Anak muda pendiri YOUTHOPIA dan Bye Bye Plastic Bags ini bicara blak-blakan tentang pentingnya mendorong kiprah anak muda dalam pelestarian lingkungan.

“Generasi muda mungkin hanya 25 persen dari populasi dunia ini, tapi kami ini adalah 100 persen masa depan,” ujar Melati, mantap.

Dalam satu kesempatan dia mengajak seluruh peserta menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. “Latihan nafas ini menjadi pengingat yang kuat bahwa 70 persen oksigen yang kita hirup ini berasal dari lautan, setiap detik nafas kita ini berasal dari lautan, lantas mengapa kita memperlakukan lautan kita dengan buruk?” katanya.

Melati dan YOUTHOPIA serius mengkampanyekan pelarangan penggunaan plastik, seperti untuk kantung belanja, sedotan, styrofoam, dan sebagainya. Gerakan serupa digelar di 57 lokasi di 32 negara, dimotori oleh anak-anak muda yang masih duduk di bangku SMA atau kuliah.

Kolaborasi, ujar Melati, adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah lingkungan. “Mereka bilang, kalau kamu ingin cepat, pergilah sendiri, kalau kamu ingin pergi lebih jauh, pergilah dengan banyak orang,” ucapnya.

Melati adalah aktivis muda yang mendirikan Bye Bye Plastics Bags bersama adiknya, Isabel Wijsen, pada 2013. Mereka memimpikan dunia yang bebas kantong plastik dan sudah mengkampanyekan gerakan ini di beberapa forum internasional, termasuk PBB. Kiprah ini menempatkan Melati sebagai sepuluh wanita paling menginspirasi versi majalah Forbes, serta beberapa penghargaan lain.

YOUTHOPIA adalah proyek terbaru Melati yang didirikan untuk memberdayakan ekosistem di mana mereka mengajak anak-anak muda yang mau menjadi agen perubahan di seluruh dunia yang berfokus pada 17 Sustainable Development Goals. Menurut Melati, setiap orang, setiap generasi, bisa menjadi agen perubahan.

“Ini semua barulah permulaan, selanjutnya adalah bagaimana agar kita sebagai generasi muda bisa berkontribusi pada perubahan yang berkelanjutan,” katanya. “Sistem Pendidikan tradisional kita tidak memungkinkan hal ini, itulah sebabnya YOUTHOPIA mengajarkan semua yang tidak diajarkan di dalam sistem pendidikan tradisional.”

Melati adalah satu dari sejumlah pembicara di acara diskusi panel Temasek Shophouse Conversations yang digelar dalam dua sesi. Acara virtual yang dihadiri sekitar 1.000 peserta ini mempertemukan para pemimpin di sektor publik, swasta dan komunitas dalam sesi-sesi diskusi mengenai tantangan sosial dan lingkungan hidup.

Acara ini juga menandai peluncuran buku Steering a Middle Course: From Activist to Secretary General of Golkar karya Sarwono Kusumaatmadja, Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: