Press "Enter" to skip to content
Relief di Candi Borobudur (Dok. Tim Peneliti)

Mengidentifikasi Mamalia yang Diukir di Relief Candi Borobudur

Keberadaan satwa dalam ekspresi religi biasanya menyiratkan makna yang penting. Tak terkecuali di Candi Borobudur, candi Buddha yang dibangun sekitar abad ke-8 atau sekitar tahun 760 hingga 825 Masehi oleh Raja Mataram Kuno pada masa puncak kejayaan Dinasti Wangsa Syailendra.

Candi Borobudur yang sudah tercatat sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO pada 1991 memiliki bentuk persegi dengan tinggi 35,4 meter dan tersusun atas sepuluh tingkatan teras, di mana teras pertama sampai ketujuh berbentuk persegi, dan teras kedelapan sampai ke sepuluh berbentuk lingkaran. Di dinding Candi Borobudur terdapat relief cerita yang dimulai dari tingkatan Kamadhatu (kaki candi) hingga ke Rupadhatu (badan candi), terbagi ke dalam empat kelompok, yaitu relief Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka-Avadana, dan Gandawyuha, dengan total 1460 panil.

Nah, penelitian tim peneliti dari Museum Zoologicum Bogoriense LIPI, ITB, UNS, dan Balai Konservasi Borobodur, ini berpusat pada kelompok Lalitavistara, yang menceritakan kisah hidup Sang Buddha yang berasal dari India itu. Di kelompok Lalitavistara terdapat 120 panil relief yang ada di lima tingkatan Candi Borobudur. Di panil-panil itu terdapat berbagai spesies mamalia yang menurut peneliti, menyiratkan makna penting dan mendalam berdasarkan konteks cerita di setiap babak.

Kisah Lalitavistara itu direpresentasikan sesuai dengan asal sang Buddha. “Namun dalam mengekspresikan satwa dalam tatahan panil terjadi akulturasi karena banyak dibangun dari spesies mamalia yang hidup di Pulau Jawa,” tutur tim peneliti dalam tulisan mereka yang diterbitkan di jurnal Biologi Indonesia edisi terbaru.

Kehadiran mamalia di dalam kisah Buddha di Borobudur menyiratkan empat peran, yaitu sebagai penanda lokasi, penanda waktu, sarana transportasi, dan sebagai raham hias. Babak kehidupan Sang Buddha sendiri dapat terbagi ke dalam Babak Pengandungan dan Kehamilan, Babak Kelahiran dan Masa Muda, Babak Pertanda dan Pelepasan Duniawi, Babak Pertemuan dan Perjumpaan, Babak Kecerahan dan Pengajaran.

Total ada 23 spesies mamalia yang ditemukan di panil-panil relief Lalitavistara.

Pada babak Pengandungan dan Kehamilan, spesies penentunya adalah gajah jawa (Elephas maximus borneensis) yang menyiratkan nilai-nilai keagungan. Adapun pada babak Kelahiran dan Masa Muda ditandai dengan hadirnya spesies kuda ternak (Equus caballus) yang menyiratkan nilai-nilai kekuatan, kecepatan, dan ketangkasan.

Babak Pertanda dan Kelepasan Dunia ditandai spesies babi celeng (Sus scrofa) yang menyiratkan nilai-nilai ketamakan, keserakahan, dan kesetiaan terhadap perintah-Nya. Babak Pertemuan dan Perjumpaan ditandai oleh kijang muncak (Muntiacus muntjak) yang menyiratkan kelincahan. Babak Kecerahan dan Pengajaran ditentukan oleh spesies Singa Asia (Panthera leo persica) yang menyiratkan satwa penjaga.

Pada babak Pertemuan dan Perjumpaan juga didapati distribusi spesies mamalia paling banyak, yaitu 20 spesies dengan total 47 individu. Sedangkan babak paling sedikit distribusi spesiesnya adalah babak Kelahiran dan Masa Muda, yaitu hanya 2 spesies dengan total 17 individu.

Secara keseluruhan, saat dianalisis dengan indeks kesamaan Bray Curtis, para peneliti menemukan bahwa ada empat kelompok besar spesies di dalam kisah Sang Buddha yang ada di relief Borobudur, yaitu: Anjing Kampung, Kuda Ternak, Harimau Loreng, dan Singa Asia – Gajah Asia.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: