Press "Enter" to skip to content
OMRON-HEM-7361T

Makan Jangan Kalap Saat Lebaran, Awas Bahaya!

Lebaran identik dengan hadirnya berbagai makanan yang menggugah selera, dari yang manis, gurih, sampai makanan pedas-pedas. Tapi ada baiknya kamu nggak kalap menyantap berbagai makanan itu karena ada risiko berbahaya yang mengintip, salah satunya adalah bahaya penyakit hipertensi alias darah tinggi.

Makanan yang disajikan pada saat Lebaran biasanya bersifat tinggi kalori, tinggi kolesterol dan mengandung garam, gula, dan lemak yang juga tinggi. Makanan berkolesterol tinggi berisiko menyebabkan penumpukan plak pada pembuluh darah, sehingga pembuluh darah mengeras, kaku, dan menyempit. Hal ini dapat mengganggu aliran darah, jantung dipaksa untuk bekerja lebih keras agar dapat mengalirkan darah ke seluruh tubuh.

“Dampaknya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Ini akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan penyakit yang terkait,” kata Tomoaki Watanabe, Direktur OMRON Healthcare Indonesia, dalam sebuah acara online di Jakarta, kemarin.

Watanabe menyarankan kamu untuk rutin memeriksa tekanan darah secara mandiri, khususnya pada saat Hari Raya. Terutama kalau kamu sulit mengendalikan keinginan untuk menikmati makanan yang mengandung garam, gula, dan lemak yang tinggi tadi.

Hipertensi memang masih jadi momok yang menakutkan terutama pasca Lebaran. Dokter Spesialis Gizi Klinik Dr. Juwalita Surapsari memaparkan sejumlah penelitian yang mendapati bahwa pada saat Lebaran orang cenderung makan makanan yang mengandung kalori tinggi dan lemak, bahkan sampai tiga minggu setelah lebaran. Ada juga penelitian lain yang mendapati bahwa tekanan darah orang juga cenderung meningkat pada masa-masa lebaran.

“Biasanya kasus yang masuk ke rumah sakit itu adalah orang yang sudah punya riwayat diabetes dan hipertensi. Tapi bukan tidak mungkin terjadi orang yang sebenarnya sudah mengalami kenaikan gula darah dan tekanan darah tapi baru tahu pas dicek, kondisi ini semua terkait dengan kelebihan makan saat merayakan Lebaran, bahkan bisa lanjut sampai 3 minggu perayaannya,” tutur Dokter Lita.

Hipertensi masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan yang dapat membahayakan organ vital seperti jantung, otak, dan ginjal. Di seluruh dunia, menurut WHO , prevalensi hipertensi diperkirakan mencapai 1,28 miliar untuk rentang usia 30 sampai 79 tahun. Di Indonesia, prevalensi hipertensi untuk perempuan usia 30-79 tahun telah meningkat 12 persen dari 32,4 persen pada 1990 menjadi 44,5 persen pada 2019. Sementara di kalangan laki-laki, juga meningkat dari 28,7 persen ke 35,9 persen pada periode yang sama.

Baca juga: Mengenal Kardiovaskular dan Pentingnya Cek Tekanan Darah Secara Rutin

Dokter Lita menyarankan masyarakat untuk rutin memantau tekanan darah, sebab aktivitas itu sendiri sudah banyak dianjurkan oleh tenaga medis, bahkan oleh American Heart Association. “Lebih baik kalau bisa monitor tekanan darah di rumah, terutama bagi mereka yang sedang memulai pengobatan hipertensi, orang dengan faktor risiko hipertensi, ibu hamil dengan hipertensi, white coat hypertension, maupun masked hypertension,” kata dia.

“Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan secara mandiri menggunakan OMRON Blood Pressure Monitor yang sudah diakui dan dipercaya oleh dokter-dokter di Indonesia. OMRON juga berinvestasi pada inovasi teknologi seperti InteliWrap Cuff dan Bluetooth Connection with aplikasi Omron Connect, sehingga setiap orang bisa memonitor tekanan darah secara mandiri dengan lebih nyaman dan menginformasikan kepada dokter mereka secara real time untuk mendapatkan lebih banyak informasi dan keputusan yang lebih baik,” kata Herry Hendrayadi, Marketing Manager, OMRON Healthcare Indonesia.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: