Press "Enter" to skip to content
Langit penuh bintang (Foto: Free-Photos/Pixabay)

Satelit dan Polusi di Langit Serta Keluhan Para Astronom

Kalau diperhatikan dari Bumi sih tidak kelihatan bahwa di langit di atas sana ada puluhan ribu satelit yang sedang mengorbit dan banyak sekali sampah dari satelit yang sudah mati. Dikhawatirkan suatu hari nanti, para astronom akan kesulitan melakukan pengamatan ke antariksa gara-gara polusi cahaya dari satelit dan sampah itu.

Sejak 2019, SpaceX telah meluncurkan lebih dari 1000 satelit komunikasi Starlink untuk layanan internet global. Puluhan ribu satelit lainnya bakal menyusul, baik dari SpaceX maupun perusahaan lain seperti Amazon misalnya.

Dilansir dari Science.org, Sejauh ini, para astronom sudah menyampaikan keluhan dan kekhawatiran mereka. Sebagai tanggapan, insinyur di SpaceX meredupkan satelit mereka menjadi sekitar seperempat kecerahan satelit prototipe pertama.

Tetapi Miroslav Kocifaj, seorang astronom di Slovak Academy of Sciences, memiliki kekhawatiran yang berbeda. Dia khawatir ribuan satelit dan puing-puing di atas Bumi dapat menyebarkan cahaya kembali ke atmosfer, sehingga akan menghalangi pandangan ke kosmos.

Kocifaj, John Barentine dari International Dark-Sky Association, dan rekan-rekan mereka menemukan bahwa di lokasi yang paling gelap di Bumi, langit itu sendiri memiliki cahaya alami dari sumber seperti partikel terionisasi. Tapi selain itu, objek di orbit ternyata dapat menambahkan sekitar 10% lebih banyak cahaya.

Perhitungan itu bergantung pada beberapa asumsi, dimulai dengan perkiraan jumlah dan distribusi ukuran benda-benda luar angkasa pada pertengahan 1990-an, meningkatnya kepadatan ruang sejak saat itu, dan menebak seberapa reflektif benda-benda ini secara rata-rata.

Kekhawatiran akan dampak ribuan satelit itu juga dicetuskan oleh Samantha Lawler, seorang asisten professor astronomi di University of Regina di Kanada. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita tidak akan memiliki akses ke langit malam seperti yang kita lihat,” kata Lawler, seperti dilansir CNN.com.

Lawler dan dua astronom Kanada lainnya menerbitkan sebuah makalah pada bulan Desember di The Astronomical Journal yang meramalkan bahwa, dalam waktu kurang dari satu dekade, 1 dari setiap 15 titik cahaya di langit malam adalah satelit yang bergerak.

“Pikirkan itu,” kata Lawler. “Hanya ada sekitar 4.000 bintang yang bisa Anda lihat dengan mata telanjang dan jika 200 di antaranya bergerak, itu sangat berbeda dari langit yang biasa kita lihat sekarang.”

Puluhan ribu satelit kecil hanya sekitar 483 kilometer di atas Bumi, diluncurkan oleh perusahaan swasta untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi global. SpaceX milik Elon Musk bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari semua satelit aktif di orbit, lebih banyak dari perusahaan atau negara mana pun, termasuk pemerintah AS.

SpaceX telah meluncurkan lebih dari 2.000 satelit dengan rencana untuk meluncurkan setidaknya 42.000 lebih untuk konstelasi mega yang disebut Starlink. Pesaing jauh lainnya termasuk Project Kuiper dari Amazon dan perusahaan satelit OneWeb yang berbasis di London.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: