Press "Enter" to skip to content
Foto: Hari Suroto

Pelajaran tentang Toleransi dan Tradisi di Lembah Baliem Papua

Di Lembah Baliem Papua kita bisa belajar tentang toleransi beragama. Sebelum Islam masuk, di Lembah Baliem sudah ada penganut Kristen Protestan dan Katolik. Agama Islam mulai berkembang di Lembah Baliem, berawal dari program transmigrasi sekitar tahun 1964. Semua transmigran dari Jawa pada waktu itu beragama Islam.

Suku Dani yang tinggal di Lembah Baliem sebagian memeluk agama Islam, seperti terlihat di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya.

Yang menarik adalah, masyarakat Walesi yang beragama Islam, masih tetap mempertahankan tradisi dari pegunungan tengah Papua. Hal ini terlihat dari tradisi bakar batu dalam menyambut ramadan. Selama ini dalam bakar batu digunakan daging babi. Sebagai pengganti daging babi digunakan ayam.

Saat melakukan bakar batu, laki-laki menyusun batu di atas susunan kayu kering kemudian ditutupi dengan daun-daun serta rumput kering untuk selanjutnya dibakar. Tidak jauh dari lokasi batu dibakar, sebelumnya sudah dibuat sebuah kubangan dalam tanah.

Batu panas hasil pembakaran kemudian ditata merata di dalam lubang, selanjutnya di atas permukaan batu panas disusun berbagai jenis bahan pangan seperti sayuran, keladi, ubi jalar, singkong, pisang dan ayam. Bahan pangan ini kemudian ditutup dengan daun ubi jalar atau sayur-sayuran lainnya.

Bahan pangan ini akan matang dari panas panas yang bersumber dari batu. Setelah semua bahan pangan disusun, tumpukan makanan itu kemudian ditutup rapat dan kemudian meletakkan lagi batu panas. telah tiga jam, kemudian dibuka dan semua bahan makanan pun sudah matang dan siap disantap.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari kehidupan beragama di Lembah Baliem adalah rasa toleransi beragama yang tinggi. Selain itu budaya tradisional masih dipertahankan.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: