Press "Enter" to skip to content

Benarkah Anak-Anak Lebih Tangguh Menghadapi Virus Corona?

Virus Corona ternyata tak banyak menginfeksi anak-anak, berkaca dari kasus pandemi yang sudah menewaskan hampir 500 orang dan menginfeksi lebih dari 24.000 orang di China itu. Fakta ini masih menimbulkan tanda tanya di antara para ilmuwan, mengapa hanya sedikit anak yang terkena?

Wabah virus Corona dimulai pada 31 Desember 2019, namun hingga 22 Januari lalu hanya sedikit anak kecil berusia kurang dari 15 tahun yang terkena virus tersebut. Studi tentang hal ini diterbitkan di jurnal New England Journal of Medicine. Studi itu menyimpulkan, “Anak-anak mungkin lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi atau, jika terinfeksi, dapat menunjukkan gejala yang lebih ringan daripada orang dewasa.”

Sejak Desember, kasus anak yang terinfeksi virus Corona sangat sedikit. Seorang anak perempuan berusia 9 bulan di Beijing, seorang anak di Jerman yang ayahnya terlebih dulu terkena virus, dan seorang anak di Shenzhen, China, yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala apapun.

Lalu, pada Rabu lalu, otoritas China mengkonfirmasi bahwa seorag bayi di Wuhan, China, dites positif terkena virus Corona dalam 30 jam setelah lahir. Sang ibu adalah pasien virus Corona .

Tapi pada kebanyakan kasus, anak-anak ternyata tak terlalu rentan. “Dengan alasan yang masih belum kami mengerti, kelihatannya virus ini lebih berdampak pada orang dewasa,” tutur Richard Martinello, associate professor penyakit infeksi di Yale School of Medicine, seperti dilansir Business Insider.

Rupanya, kemiripan ini juga terdeteksi ketika virus SARS merebak beberapa tahun lalu. Dari lebih dari 8.000 kasus infeksi dan 774 korban tewas, kasus SARS hanya menimpa 80 orang yang terkonfirmasi dan 55 anak yang masih suspect saja. Kebanyakan mereka mengalami demam dan batuk. Dalam sebuah laporan tahun 2007, disebutkan bahwa gejala SARS memang kurang terlalu terlihat pada anak-anak.

Dengan merebaknya virus Corona tapi tak terlalu berdampak pada anak-anak, ada kemungkinan karena anak-anak kurang terekspos pada virus itu. Atau, ada sesuatu yang lain di dalam tubuh anak-anak dalam merespons virus tersebut. Sejauh ini, baru begitulah kesimpulan para ilmuwan. 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: