Press "Enter" to skip to content

Tentang Virus Corona Varian Omicron, Baru Ini yang Kita Ketahui

Sejak 26 November lalu resmi dikenal varian baru virus Corona, yang oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) disebut dengan varian Omicron, mengambil nama abjad ke 15 dalam alfabet Yunani. Varian ini disebut juga atau disebut juga B.1.1.529. WHO menyebutnya “variant of concern”. Mengapa begitu?

Rupanya predikat itu diberikan karena belum banyak yang kita ketahui tentang varian baru yang berkembang di beberapa negara Afrika dan sudah menyebar ke beberapa negara lain ini.

Dari yang sedikit itu, sebagaimana dilansir Live Science, para ahli menduga varian ini memiliki jumlah mutasi yang tinggi. Banyak dari mutasi ini berada di dalam gene yang mengkodekan protein spike yang diinfeksi oleh virus corona dan menginvasi tubuh manusia.

Informasi awal menyatakan bahwa mereka yang sudah terpapar virus corona berisiko tinggi kembali terinfeksi COVID-19 oleh varian Omicron berbanding varian lain. Tapi belum diketahui pasti seberapa menular varian ini dan bagaimana kemampuan vaksin yang sudah ada sekarang dalam mengantisipasi varian Omicron.

Berikut ini adalah fakta-fakta terkini Corona varian Omicron:

Asal: kasus pertama dilaporkan di Afrika Selatan pada 24 November dan terus meningkat tajam di Provinsi Gauteng. Beberapa negara, termasuk Indonesia, telah memberlakukan larangan kedatagan WNA dari beberapa negara Afrika.

Sebaran: kasus COVID-19 dengan varian Omicron sudah terdeteksi di Kanada, Austria, Belgia, Denmark, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Skotlandia, Botswana, Israel, Australia, dan Hong Kong.

Deteksi: Untuk mendeteksinya masih bisa menggunakan teknik PCR yang biasa dan mudah dikenali juga dari varian mutasi lainnya.

Mutasi: Omicron diperkirakan memiliki lebih dari 30 mutasi dalam gen yang mengkodekan protein spike dan 10 di antaranya berada di “receptor binding domain” atau di bagian spike protein yang menginfeksi sel manusia. Dan mutasi yang lain diduga bisa memiliki tingkat penularan yang tinggi karena kemampuannya meruntuhkan pertahanan imunitas manusia.

Tingkat keparahannya: Belum diketahui. Tapi yang jelas, angka penderita COVID-19 yang dilarikan ke rumah sakit meningkat terus di Afrika Selatan.

Tingkat penularan: Belum diketahui juga apakah varian ini lebih gampang menular dari orang ke orang, seperti varian yang lain.

Efektivitas vaksin: Nah ini penting. Belum diketahui juga apakah vaksin yang sudah ada sekarang efektif untuk menangkal varian ini. Namun, sebagian besar vaksin yang beredar dirancang untuk melawan spike protein. Kekhawatirannya adalah, karena sebagian mutasi varian ini terjadi di spike protein, maka bisa jadi vaksin yang ada menjadi kurang efektif.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: