Press "Enter" to skip to content
Gedung BRIN (Foto: dok BRIN)

Chatbot Lisa, Inovasi AI untuk Edukasi Soal Cuci Darah

Penyakit ginjal kronik yang memicu orang untuk cuci darah masih menjadi salah satu penyakit kronis yang mengancam di Indonesia. Catatan dari Kementerian kesehatan, prevalensi penyakit ginjal kronik terus meningkat, dengan jumlah pasien hemodialisa (cuci darah) yang terus bertambah setiap tahun.

Namun masyarakat masih menyimpan banyak pertanyaan terkait penyakit ginjal kronis, termasuk masalah hemodialisa. Seperti, apa itu hemodialisa atau cuci darah? Bagaimana proses tindakannya? Kapan seseorang harus mulai cuci darah? Apa penyebab utama penyakit ginjal kronik? Apa saja tanda-tanda awal kerusakan ginjal? Dan sebagainya.

Untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat terkait penyakit ginjal kronik maupun hemodialisa, baru-baru ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI), Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI), memperkenalkan inovasi terbaru berupa Chatbot Lisa versi 2.0.

Chatbot Lisa adalah aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan ginjal, khususnya terapi hemodialisa.

Berikut fakta-fakta mengenai inovasi ini:
1. Inovasi ini dikembangkan menggunakan teknologi Large Language Models (LLM) dan Retrieval Augmented Generation (RAG), yang memungkinkannya menjawab pertanyaan secara alami dan akurat berdasarkan sumber data medis terverifikasi.
2. Pengembangan Chatbot Lisa merupakan bentuk nyata riset BRIN dalam mendukung transformasi layanan publik di bidang kesehatan.
3. Teknologi LLM dan RAG memberikan peluang besar dalam layanan kesehatan modern karena memungkinkan sistem memahami konteks percakapan medis dan menghasilkan jawaban yang relevan serta terpercaya.
4. Sumber datanya berasal dari situs-situs tanya jawab medis seperti Alodokter, Halodoc, dan platform serupa.

Kepala PRSDI, Esa Prakasa, menjelaskan bahwa Chatbot Lisa dikembangkan untuk memahami bahasa alami dan memberikan informasi medis berbasis data yang sudah diverifikasi.

Keunggulan Lisa terletak pada validasi medis yang ketat. Kolaborasi antara tim periset PRSDI dan dokter dari Pusat Riset Kesehatan Preklinis dan Klinis (PR KPK) BRIN memastikan setiap informasi yang dihasilkan tetap akurat, etis, dan sesuai prinsip keselamatan pasien.

“Chatbot Lisa tidak menggantikan peran dokter, melainkan melengkapi layanan kesehatan dengan menyediakan edukasi medis berbasis pengetahuan ilmiah yang mudah diakses masyarakat,” ucap Esa, dalam keterangannya.

Chatbot Lisa awalnya dikembangkan pada 2021 dengan sistem berbasis aturan (rule-based) versi 1.0 menggunakan aplikasi Smojo.ai buatan Terra AI. Versi ini telah diterapkan di RSUD Cimacan, Cianjur. Selanjutnya, Lisa dikembangkan ke versi 2.0 dengan kemampuan LLM dan RAG yang memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan bebas (open question).

Dengan RAG, setiap jawaban diambil dari referensi terverifikasi, sehingga mengurangi halusinasi dan menyediakan kutipan yang dapat dilacak dari sumber terpercaya. Saat ini, Chatbot Lisa masih dibatasi penggunaannya di lingkungan internal BRIN untuk memastikan keamanan dan tingkat akurasi sebelum dirilis ke publik.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.